Hasto PDIP Kritik Kontrol Program MBG Tak Bekerja Akibat Pemburu Rente
Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto menyoroti berulangnya kasus keracunan makanan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sumatera Utara, menuding adanya pemburu rente yang merusak kualitas.
Sekretaris Jenderal DPP PDIP Hasto Kristiyanto menyampaikan kritik tajam terkait berulangnya kasus keracunan makanan yang menimpa puluhan siswa akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sumatera Utara. Kritik ini disampaikan Hasto usai mengikuti upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di halaman Masjid At-Taufiq, Sekolah Partai PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Senin, 17 Agustus 2026.
Hasto menilai kejadian berulang ini menjadi indikasi kuat bahwa sistem pengawasan pemerintah tidak berjalan dengan baik. Ia juga menuding adanya keterlibatan pihak-pihak "pemburu rente" yang menurunkan kualitas makanan demi mengambil keuntungan finansial.
"Ini kan persoalan yang sejak awal terjadi. Ketika persoalan itu berulang-ulang, artinya kan sistem tidak bekerja. Kontrol tidak bekerja dan kemudian juga menunjukkan mengapa kualitasnya tidak baik? Karena di situ ada pemburu rente," kata Hasto.
Desakan Revisi Total Program MBG
Melihat jatuhnya korban dari kalangan siswa sekolah, Hasto mendesak pemerintah untuk segera melakukan revisi serta evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola dan mekanisme penyaluran program MBG.
"Inilah yang kemudian harus dilakukan revisi secara total. Harus dilakukan suatu evaluasi secara menyeluruh, sudah terlalu banyak korban yang terjadi," lanjutnya.
Lebih lanjut, Hasto menjelaskan bahwa PDIP sejatinya memiliki rekam jejak dan konsep penanganan gizi rakyat yang teruji di daerah. Ia mencontohkan keberhasilan kebijakan pemenuhan gizi rakyat yang pernah diterapkan oleh Tri Rismaharini saat menjabat Wali Kota Surabaya, Idham Samawi sewaktu menjadi Bupati Bantul, hingga Abdullah Azwar Anas di Banyuwangi.
Konsep Partisipatif PDIP untuk Gizi Rakyat
Menurut Hasto, kunci keberhasilan program pemenuhan gizi terletak pada pendekatan partisipatif yang melibatkan warga setempat, bukan sekadar proyek tersentralisasi dari atas ke bawah (top-down).
"PDI Perjuangan memiliki konsep bagaimana untuk membantu kebutuhan gizi bagi rakyat. Langkah-langkah yang partisipatif melibatkan rakyat. Jadi jangan anggap bahwa program pemberian makanan bergizi itu sebagai satu yang top-down," jelas Hasto.
Ia menyarankan agar pemerintah pusat cukup bertindak sebagai penjamin dan pengawas kualitas (quality assurance dan quality control). Sementara itu, eksekusi penyediaan makanan diserahkan kepada partisipasi aktif masyarakat dan UMKM lokal demi menjamin kesegaran serta mutu makanan.
